Ali Mochtar Ngabalin Sindir Yahya Waloni Prof Abal-abal yang Terancam Hukuman Penjara Enam Tahun

Sebarkan:

JAKARTA, TIMORTODAY.id-Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin langsung menanggapi penangkapan Yahya tersebut.

Lewat sebuah cuitan di akun Twitter pribadinya, Ali Ngabalin berharap seseorang yang disebut sebagai profesor segera menyusul Yahya ditangkap polisi.

Ngabalin meminta Yahya banyak belajar, jika nantinya masih ingin berdakwah.

“Si prof abal-abal semoga cepat menyusul. Yahya apa kabar ngana dinda? Belajar yg banyak klu msh mau berdakwah, salam pe Nur Sugi bilang dari bang ali,” ujar Ali Ngabalin, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Twitter @AliNgabalinNews.

Ia berterimakasih kepada Bareskrim Polri yang sudah menangkap Yahya. Menurutnya, negara harus bersih dari semua paham radikalisme.

“BARESKRIM tks tlh melaksanakan amanah UU. Negeri kt hrs bersih dr pengaruh FUNDAMENTALIS&RADIKALISME kampungan,” ujar Ngabalin.

Penceramah Yahya Waloni ditangkap Tim Bareskrim Polri pada Kamis, 26 Agustus 2021 di kediamannya di Perumahan Permata Cluster Dragon, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sekira pukul 17.00 WIB.

Penangkapan itu dilakukan setelah ada laporan dari sejumlah komunitas masyarakat cinta pluralisme, yang teregistrasi dengan nomor LP/B/0287/IV/2021/BARESKRIM tertanggal 27 April 2021.

Kelompok tersebut mempersoalkan ceramah Yahya Waloni yang menyebut Kitab Injil fiktif dan palsu. Pernyataan Yahya itu dinilai menodai agama.

“Dalam laporan polisi tersebut yang bersangkutan dilaporkan karena telah melakukan suatu tindak pidana yaitu berupa ujaran kebencian berdasarkan SARA dan penodaan agama tertentu melalui ceramah yang diunggah pada video di akun YouTube,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono.

Yahya dipersangkakan dengan Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45a ayat (2) Undang-undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan pidana penjara paling lama enam tahun.

Selain itu, Yahya juga dijerat Pasal 156a KUHP yang berisi, “Barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun”. (cq/pikiranrakyat.com)

Sebarkan: