Bamsoet: Dana Otsus Papua harus Mampu Tingkatan Mutu Pendidikan

Sebarkan:

JAKARTA, TIMORTODAY.id-Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengungkapkan, dalam UU Nomor 2 Tahun 2021, Dana Otsus untuk Papua yakni Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat akan terus diberikan hingga 2041.

Jumlahnya ditingkatkan dari 2 persen menjadi 2,25 persen dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional. Sehingga, dana Otsus Papua kemudian meningkat dari Rp7,6 triliun pada 2021 menjadi Rp 8,5 triliun untuk 2022.

“Salah satu penggunaan dana Otsus ditujukan untuk peningkatan sektor pendidikan masyarakat di Tanah Papua”, tandas Bamsoet dalam Kuliah Umum Kebangsaan di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari secara virtual dari Jakarta, Rabu (01/09/2021).

Diuraikan, sepanjang 2020, Propinsi Papua mendapat alokasi anggaran pendidikan Rp1,62 triliun dari total dana Otsus Papua sebesar Rp5,29 triliun. Sementara Propinsi Papua Barat menerima sekira Rp470 miliar dari total dana Otsus Papua Barat Rp1,7 triliun.

Namun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaporkan mereka tidak pernah mendapatkan informasi tentang penggunaan dana Otsus Papua untuk sektor pendidikan tersebut. Karenanya peningkatan dana Otsus Papua yang sejalan dengan peningkatan dana untuk sektor pendidikan harus dibarengi dengan transparansi penggunaan anggaran.

Turut hadir Ketua STIH Manokwari Filep Wamafma, serta 500 partisipan dari keluarga besar Civitas Akademika STIH Manokwari.

Ketua DPR RI ke-20 ini menekankan, pendidikan merupakan landasan fundamental bagi kemajuan suatu bangsa. Melalui pendidikan akan lahir sumberdaya manusia yang dapat diandalkan bagi pemajuan pembangunan nasional. Karenanya apresiasi perlu diberikan kepada STIH Manokwari sebagai salah satu entitas pendidikan tinggi di Papua, yang mengusung motto: Pendidikan Merupakan Faktor Kunci bagi Perlindungan, Pemberdayaan, Penghormatan dan Keberpihakan Terhadap Rakyat Papua.

Namun harus diakui, keterbatasan akses pendidikan masih menjadi persoalan yang dihadapi banyak pemuda di berbagai wilayah Nusantara, termasuk di Papua. Tetapi, kondisi ini hendaknya tidak menyurutkan semangat untuk terus belajar dan berjuang.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menambahkan, semua pihak dapat belajar dari para pemuda Papua yang berhasil mengukir prestasi membanggakan di tengah berbagai keterbatasan dan banyaknya tantangan yang harus dihadapi. Antara lain, Vanda Korisano dan Martha Itaar yang menjadi pilot Garuda Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan di Nelson Aviation College, Selandia Baru, dan di Sekolah Penerbangan Ganesha, Jakarta.

Pemuda lainnya adalah Bob Royend Sabatino Kaway dan Thinus Lamek Yewi, pelajar SMA Advent Doyo Baru, Distrik Waibu, Desa Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, yang berhasil mewakili Indonesia masuk tim penelitian NASA pada Maret 2016.

Ada Septinus George Saa yang berhasil menjuarai kompetisi kelas dunia, First Step to Nobel Prize dalam bidang Fisika pada tahun 2004 saat masih menjadi pelajar SMA. Setelah tamat SMA, George melanjutkan studi dengan gelar sarjana dalam bidang Aerospace Engineering di Florida, Amerika Serikat, dan melanjutkan pendidikan S2 jurusan teknik material di Inggris.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini juga menyoroti pentingnya menjaga kemajemukan yang telah menjadi realitas sosial sekaligus fitrah kebangsaan yang tidak dapat diingkari dan dipungkiri.

Keberagaman dinilainya telah menghimpun dan menyatukan bangsa Indonesia dalam satu bahtera besar bernama Indonesia, yang menjadi ‘rumah bersama’ bagi lebih dari dari 270 juta rakyat Indonesia, yang terdiri dari sekira 1.340 suku, yang memiliki 733 bahasa, serta menganut 6 agama dan puluhan aliran kepercayaan. Masing-masing hadir dengan identitas budaya, kearifan lokal, keunikan dan ciri khasnya sendiri.

Dengan kemajemukan yang dimiliki serta kondisi geografis sebagai negara kepulauan dengan potensi kekayaan sumber daya alam yang melimpah, kata Bamsoet, telah menempatkan Indonesia sebagai center of gravity bagi kepentingan komunitas global.

“Hal ini menjadikan kita dalam posisi rentan terhadap pengaruh dan infiltrasi asing. Sehingga, penghormatan terhadap nilai kebhinekaan dalam bingkai NKRI menjadi syarat mutlak untuk menjaga kedaulatan sebagai sebuah bangsa,” sorot Bamsoet.

Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan Kadin Indonesia ini menjelaskan, mengelola keberagaman bukan dimaknai dengan memaksakan keseragaman. Tetapi lebih pada penghormatan terhadap adanya perbedaan. Yang ditekankannya adalah menjadikan keberagaman sebagai kekayaan yang menyatukan, bukan perbedaan yang memisahkan.

Menurut Bamsoet, mengelola keberagaman dan merawat kebhinekaan menuntut peran serta segenap pemangku kepentingan. Tidak hanya pemerintah, melainkan juga masyarakat, utamanya generasi muda bangsa, dan terkhusus lagi adalah para mahasiswa.

Sebagai insan cendekia, kata Bamsoet, mahasiswa memiliki kompetensi akademis dan pemikiran analitis. Mahasiswa adalah sumberdaya potensial yang diharapkan mampu menyikapi keberagaman dan menarasikan pentingnya merawat kebhinekaan dengan kedewasaan pemikiran.

“Mahasiswa harus mampu membangun kesadaran serta mempengaruhi dan memobilisasi masyarakat untuk senantiasa menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa sebagai prioritas keberpihakan,” demikian Bamsoet. (cq)

Sebarkan: