Bamsoet: Tingkat Penetrasi Internet di Indonesia 76,8 Persen

  • Bagikan

TANGERANG SELATAN, TIMORTODAY.id-Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengungkapkan, tingkat penetrasi internet di Indonesia hingga Maret 2021 mencapai 76,8 persen dengan jumlah pengguna internet telah mencapai 212,35 juta user.

Mengutip Data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat 85,62 persen pemuda Indonesia adalah pengguna aktif. Hal ini merupakan fenomena lain dari pandemi moral yang dihadapi bangsa sebagai efek samping kemajuan teknologi dan arus globalisasi.

Hal ini diungkapkan Bamsoet dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan, Senin (25/10/2021).

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengatakan, tingginya angka penetrasi internet generasi muda ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Sebagai gambaran, menurut catatan Kementerian Tenaga Kerja 2018, sekira 90,61 persen generasi muda menggunakan internet hanya untuk bermedia sosial. Penguasaan literasi teknologi hanya merupakan sebuah kemubaziran.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menerangkan, tingginya angka penetrasi internet juga tidak diimbangi dengan tingkat ‘keadaban’ yang memadai.

Disebutkan, hasil riset Digital Civility Index yang dirilis 2021, menyebutkan, etika dan tingkat keadaban warganet di Indonesia semakin rendah. Indonesia berada di peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Faktor yang memperburuk skor Digital Civility Index Indonesia adalah berita bohong (hoax) dan penipuan di internet (sebesar 47 persen), ujaran kebencian (27 persen), serta diskriminasi (13 persen).

Lebih buruk lagi, tingginya tingkat penetrasi internet juga berbanding lurus dengan peningkatan kejahatan siber. Sebagai perbandingan, pada periode Januari hingga Agustus 2019, jumlah serangan siber di Indonesia mencapai 39,3 juta. Sedangkan pada periode Januari hingga Agustus 2021, naik drastis menjadi hampir 190 juta serangan siber.

“Ini berarti pada masa pandemi Covid-19, kejahatan siber naik lebih dari 4 kali lipat,” demikian Bamsoet.

Kejahatan siber yang demikian, kata Bamsoet, diperlukan adanya vaksinasi ideologi untuk memutus mata rantai radikalisme dan demoralisasi generasi bangsa.

Sebab, dampak kerusakan yang terjadi bisa jauh lebih dahsyat, sebagai ancaman kasat mata yang tidak terdeteksi diagnosa medis sebagaimana ancaman pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini.

“Pandemi moral berupa terpinggirkannya nilai-nilai luhur, kearifan lokal dan jati diri bangsa akan terimbas pada pandemi kesehatan dan ekonomi”, tandas Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 ini memaparkan hasil surveI MEDIAN yang dilakukan pada 30 Mei-3 Juni 2021. Hasil survei itu memperlihatkan sebanyak 49 persen responden berpandangan Pancasila belum dilaksanakan dengan baik dan benar.

Beberapa indikatornya adalah masih maraknya kasus korupsi (25 persen), kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan (15,4 persen), belum tegaknya hukum yang berkeadilan (3,6 persen), serta diskriminasi dan intoleransi (2,7 persen).

Mengutip Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bamsoet mengungkapkan, dari sekira 1.298 koruptor yang ditangkap KPK, sebanyak 86 persennya atau sekira 1.116 koruptor merupakan lulusan perguruan tinggi. Sangat ironis. Bisa jadi hal ini tidak lepas karena ketiadaan kurikulum Pancasila sebagai mata pelajaran wajib yang diajarkan dari mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

“MPR RI bersama BPIP mendesak Kemendikbud untuk memasukan kembali Pancasila sebagai mata pelajaran wajib dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” papar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan, hasil survei Komunitas Pancasila Muda dengan responden kaum milenial dari 34 propinsi yang dilaksanakan pada Mei 2020, mencatat masih ada 19,5 persen responden yang merasa tidak yakin bahwa nilai-nilai Pancasila relevan dalam kehidupan mereka. Pancasila dianggap sekedar istilah yang tidak dipahami maknanya.

Padahal, kata Bamsoet, saat ini bangsa Indonesia telah menginjakkan kaki pada periode bonus demografi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Diperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2045 akan mencapai 319 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekira 70 persennya atau sebanyak 223 juta jiwa adalah kelompok usia produktif yang didominasi kaum muda, yang akan menjadi tulang punggung pembangunan nasional

Turut hadir jajaran Rektorat UIN Syarif Hidayatullah, antara lain Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Arief Subhan, Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni Ikhwan, Sub Bagian Bina Bakat dan Minat Mahasiswa Arief Arianto dan Ketua Senat Mahasiswa Muhammad Sahrul. (cq)

  • Bagikan