Banyak Kejanggalan, Istri Wakil Kepala SMKN 1 Atadei Desak Penyidik Polres Lembata Buka Kembali Kasus Kematian Suaminya

  • Bagikan

LEWOLEBA, TIMORTODAY.id-Yustina Bluan yang adalah istri  Wakil Kepala SMKN 1 Atadei Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak pihak penyidik Kepolisian Resor (Polres) setempat untuk membuka kembali kasus kematian suaminya, Agustinus Leyong Tolok.

Hal ini dimaksudkan untuk memastikan penyebab kematian suaminya. Sebab, kepergian suaminya untuk selama-lamanya itu banyak kejanggalan.

“Biar kasusnya terang-benderang dan bisa diketahui pasti penyebab kematian suami saya”, tandas Yustina yang dihubungi melalui telpon selulernya, Minggu (19/09/2021).

Yustina sendiri pernah diperiksa di Polres Lembata. Di hadapan penyidik,   dia menjelaskan seluruh kronologis kepergian suaminya. Mulai sejak keluar dari rumah sampai dengan ditemukan kembali dalam keadaan sudah tidak bernyawa di belakang sekolah, tempat dia mengabdi sebagai guru selama ini.

Belakangan, Yustina mendapat  SP2HP dari Polres Lembata. Dalam SP2HP Polres Lembata yang copiannya diterima media ini, dijelaskan, kasus kematian Agustinus Leyong Tolok dihentikan penyelidikannya.

SP2HP Nomor; SP2HP/168/Res.1.24/VII/2021/Reskrim tanggal 17 Juli 2021 tersebut ditandatangani  Kapolres Lembata AKBP Yoce Marthen, SH, SIK, MIK selaku Penyidik.

Dalam SP2HP tersebut dijelaskan telah diperiksa 12 saksi, hasil Otopsi dari Forensik Polda Bali dalam pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan toksikologi (pemeriksaan racun), ditemukan adanya alkohol yaitu etanol di ginjal, di lambung, di kandung kemih dan di otak yang diduga kuat mengakibatkan kematian.

Atas pemeriksaan itu, penyelidikan kasus penemuan mayat tersebut dihentikan. Jika di kemudian hari ada fakta-fakta atau bukti-bukti baru yang mendukung penyelidikan kasus tersebut akan diproses lebih lanjut.

Berikut kronologis lengkap kasus tersebut sebagaimana dituturkan Yustina Bluan, istri korban Agustinus Leyong Tolok :

Sekira pukul 07.30 Wita pada Jumat, 13 Nopember 2020, korban pamit ke sekolah. Sekira pukul 14.00 Wita, istri korban menghubungi ibu Letek lagi melalui WA tetapi tidak dijawab (panggilan WA tidak aktif).  Kemudian istri korban chat ke ibu Letek menanyakan keberadaan suaminya tetapi tidak dibalas.  Sehingga, istri korban menghubungi guru yang lain (Pak Kristo) melalui panggilan WA dijawab tapi saat itu Pak Kristo tidak berada di sekolah.  Dia berada di Kalikasa mengikuti hajatan 40 hari kematian. Dia janji pulang ke sekolah baru dia cek.

Setelah beberapa jam,  sekira pukul 15.00 Wita Pak Kristo menelpon melalui panggilan biasa.  Jawabannya, korban tidak ada. Yang ada  hanya sepeda motornya yang terparkir di sekolah. Beberapa lama kemudian, ada balasan chat dari Ibu Letek mengatakan hanya ada motor tetapi korban tidak ada. Mereka sudah cari di ruangan praktik yang biasa korban nongkrong tapi tidak ada.

Sekira jam 16.00 wita lewat, istri korban menelpon melalui panggilan WA ke Ibu Letek menanyakan keberadaan korban tapi jawaban ibu Letek mereka lihat lewat jendela cuma ada motor korban tetapi korban tidak ada.

Keluarga kemudian terpencar dan mencari ke sekolah dan sekitarnya. Juga ke kebun milik korban. Saat pencarian di sekitar sekolah tidak ditemukan apa-apa selain motor korban yang terparkir di depan lab.  Pencarian dilakukan di sekitar sekolah tetapi tidak ditemukan apa-apa.  Bau-bau juga tidak tercium.  Karena tidak menemukan hasil, keluarga pulang buat seremonial adat.  Dalam petunjuk, korban ada dalam satu ruangan kosong dan dijaga tiga orang. Sehingga, fokus pencarian hanya di sekitar sekolah.

Sekira jam 18.00 Wita lewat, keluarga (kurang lebih 50 orang) mulai melakukan pencarian lagi. Karena petunjuknya korban ada  di ruangan kosong,  pencarian dilanjutkan di kantor pertanian, juga kosong.  Sehingga, diputuskan pencarian dibagi dua kelompok. Kelompok pertama melakukan pencarian mulai dari Puskesmas ke Kantor Camat, UPTD dan Pospol. Sedangkan kelompok kedua dari kantor Pertanian menyusuri kali mati hingga ke belakang sekolah.

Saat sampai di sekolah, salah satu kerabat Samung mencoba mendobrak salah satu pintu ruangan yang paling ujung.  Kemudian, salah satu guru yang tinggal di mes sekolah (Pak Kristo) menghampiri rombongan dan mengatakan seluruh ruangan di sekolah sudah dicari, namun mereka tidak menemukan apa-apa.

Kemudian, Samung berusaha mendobrak pintu salah satu ruangan namun Pak Kristo mengatakan kunci tidak ada. Saat itu terdengar seperti bunyi barang yang jatuh di mes salah satu guru (mes pak Kristo).  Tiba-tiba dia (Pak Kristo) seperti orang yang dikejar ketakutan. Ada satu orang lagi mengintip dari mesnya Pak Kristo.  Setelah dari mes Pak Kristo, dua kelompok tadi diarahkan untuk melakukan pencarian ke arah belakang sekolah.

Pencarian dilanjutkan sampai sebelum masuk rumah pupuk, sudah tercium bau bangkai tetapi salah satu guru (Pak Kristo) mengatakan itu bau pupuk. Pencarian terus dilakukan mulai dari rumah pupuk terus ke asrama, ruang guru, terus ke kantor BMKG tetapi tidak ditemukan.

Pencarian dilakukan lagi di rumah penjaga sekolah turun terus ke bagian belakang rumahnya namun tidak ditemukan juga.

Jenazah korban Agustinus Leyong Tolok kemudian ditemukan tidak lagi bernyawa sekira pukul 19.45 wita pada Sabtu, 14 Nopember 2020 di samping sekolah oleh Kormas dan Us yang berjarak dari gedung asrama sekira 25 meter.

Atas temuan itu,  Tim Reskrim Polres Lembata langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan langsung dilakukan Visum di Puskesmas Waiknuit-Katakeja.  Kemudian, jenazah dibawa ke ruang  jenasah RSUD Lewoleba.

Jenazah dikuburkan pada Minggu, 15 Nopember 2020. Karena banyak kejanggalan atas kasus kematian almarhum akhirnya istri korban, Yustina Bluan, membuat laporan ke Polres Lembata dengan Nomor: LP/105/XI/Res.1.24/2020/NTT/Polres Lembata tertanggal 16 Nopember 2020”.

Kronologi ini ditandatangani Yustina Bluan selaku istri korban dan kuasa hukumnya dari Firma Hukum ABP untuk proses hukum lebih lanjut. (cq)

  • Bagikan