Ketua Umum PPWI Sebut Kasus Dugaan Kriminalisasi Ibu Bhayangkari Nina Muhammad dalam Sidang KEPP AKBP Binsan Simorangkir

  • Bagikan

JAKARTA, TIMORTODAY.id-Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke, SPd, MSc, MA sebut kasus dugaan kriminalisasi Ibu Bhayangkari Nina Muhammad oleh oknum Penyidik Polresta Manado dalam Sidang Kode Etik Profesi Polri (KEPP) dengan terduga pelanggar AKBP Dr. Binsan Simorangkir, SH, MH, Senin (20/09/2021).

Lalengke sebut kasus itu saat menjawab pertanyaan Tim Penuntut kalau kemungkinan adanya laporan lainnya dari warga yang ditangani PPWI selama ini.

Atas pertanyaan itu, Lalengke menjelaskan, pihaknya menerima banyak sekali laporan dari masyarakat yang masuk ke Sekretariat PPWI Nasional.

“Lebih dari 80 persen adalah kasus yang melibatkan oknum anggota polisi yang terindikasi koruptif, melakukan pungli, tidak melaksanakan tupoksinya dengan baik, dan berbagai dugaan pelanggaran KEPP dan pidana lainnya”, tandas lulusan pasca sarjana bidang Global Ethics dari Birmingham University, England, ini.

Lalengke mengungkapkan, banyak sekali laporan warga masyarakat yang masuk ke Sekretariat Nasional PPWI. Umumnya laporan yang masuk melibatkan oknum anggota polisi yang dianggap melakukan penyalahgunaan kewenangan. Oknum-oknum aparat Polisi itu berada di semua level dan daerah, dari Mabes Polri, Mapolda, Mapolres, hingga Mapolsek di hampir seluruh Indonesia.

“Salah satunya adalah kasus dugaan kriminalisasi Ibu Bhayangkari, Nina Muhammad, oleh oknum Polresta Manado, Sulawesi Utara”, sebut Lalengke.

Lalengke mengaku sudah melaporkan Kapolresta Manado ke Divpropam Mabes Polri pada Kamis, 16 September 2021 dengan mendatangi Bareskrim Mabes Polri. Di sana, Lalengke menyampaikan pertanyaan ‘mengapa saya yang orang luar ini yang harus sibuk membela Ibu Bhayangkari yang adalah anggota keluarga besar Polri?’

Baginya, semestinya Polri yang harus membela Ibu Bhayangkari itu dari tindak kriminalisasi yang diduga kuat dilakukan oknum Polresta Manado. Kecuali jika Ibu Bhayangkari itu memang benar-benar bersalah.

“Bagaimana mungkin penyidik Polresta Manado menerima laporan dari Rolandy Thalib yang mengaku sebagai korban, dengan barang bukti screenshot postingan di facebook yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pelapor sebagai korban?”, gugat Lalengke, sambil menambahkan kalau dia sudah mempelajari secara detil dan seksama kasus itu.

Ketika Wilson Lalengke menceritakan kasus itu, ruangan jadi hening, semua menyimak pemaparannya yang disampaikan dengan suara lantang bernada menggugat perilaku oknum-oknum di institusi Polri. (*/cq)

  • Bagikan