Korban Banjir Sungai Benenai-Malaka TIDAK BISA MENOLAK

  • Bagikan

Penulis: Ferdy Costa   Editor: Cyriakus Kiik

Dari hulu sampai ke hillir tidak bisa menolak. Dari kampung ke kota dan dari kota kembali ke kampung tidak bisa menolak. Telanjang tidak bisa menolak. Lapar tidak bisa menolak. Dingin tidak bisa menolak. Semua tabolak-balik. TIDAK BISA MENOLAK.

PAGI itu, Sabtu (10/04/2021), udara masih sejuk. Tidak tahu pasti jam berapa. Kota Betun masih lengang. Warga belum banyak melintas. Sebuah truk berdiri di depan pintu. Pintu ruang penampungan korban banjir Sungai Benenai. Tepatnya di kompleks SMPK Sabar Subur Betun.

Sopir truk itu hanya bilang, “Hari ini kami antar pulang kamu”. Dialog terhenti. Diam bercampur bingung. Mau pulang rumah atau tetap di kamp pengungsian. Tetap di kota atau pulang kampung. TIDAK BISA MENOLAK

Terlihat, ibu muda itu masuk ke kamar pengungsian. Dia mengemas pakaian dan barang bawaannya. Truk sudah ada. Segera naik dan harus pulang kampung. TIDAK BISA MENOLAK.

Padahal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka bilang massa tanggap darurat korban bencana banjir Sungai Benenai baru bisa berakhir pada 14 April 2021. Artinya, massa tanggap darurat itu berlangsung 10 hari terhitung 4 April. Mirisnya, pada Sabtu (10/04), masa tanggap darurat itu diakhiri. Padahal, masih empat hari lagi. Tetapi, siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Bersamaan dengan diakhirinya masa tanggap darurat, warga korban banjir Sungai Benenai dipulangkan Pemkab Malaka. Keputusan ini terkesan dadakan. Tidak ada alasan dan penjelasan resmi Pemkab Malaka. Warga korban banjir setuju saja. Siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Untuk pemulangan ini, informasi bawah tanah menyebutkan, ada kesepakatan agar warga korban banjir ditempatkan di kantor desa masing-masing untuk memudahkan pasokan sembako. Tetapi, saat diuntit, ternyata tidak ada warga korban banjir yang ditempatkan di kantor desa satu pun. Bahkan, tertangkap kamera wartawan, warga diturunkan jauh dari rumahnya. Meski ada yang sakit, itu risiko dipulangkan secara berjemaah menggunakan truk yang disiapkan Pemkab Malaka. Siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Romo Yudel Neno, Pr, salah satu pendamping warga korban banjir di Aula Gereja Katolik Dekenat Malaka bilang, pemulangan berjemaah ini awalnya mereka tidak tahu. Secara pribadi, dia menghubungi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malaka Donatus Bere untuk menanyakan kebenaran infornasi itu. Dari Sekda Donatus, Romo Yudel memastikan betul warga dipulangkan ke rumah masing-masing pada Sabtu, 10 April 2021. Siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Yang disayangkan, warga dipulangkan saat rumah mereka dalam kondisi masih dipenuhi lumpur. Padahal, sebetulnya kalau pun Pemkab Malaka sudah tidak sanggup membiayai mereka satu dua hari ke depan, pihak Gereja Katolik dan pihak lain masih bisa membiayai dan memberi mereka makan.

Intinya, kalaupun Pemkab Malaka mencabut status tanggap darurat bencana banjir, hanya untuk makanan saja masih tersedia banyak bagi warga korban. Itu ada di Paroki Betun. Tetapi, semua sudah terjadi. Warga korban banjir dipulangkan. Siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Beberapa desa dan kantor desanya disisir. Berbekal si revo. Mulai dari Desa Bereliku, Naimana, Fahiluka dan Lawalu. Semuanya di Kecamatan Malaka Tengah. Sering disebut Aintasi karena desa-desa ini letaknya di pesisir.

Sepanjang melewati lokasi yang terdampak, terlihat sangat memrihatinkan. Sebab, kondisi rumah belum terurus. Dipenuhi lumpur. Baik di dalam rumah maupun halaman rumah. Ada pula bau tak sedap. Bau bangkai binatang yang mati sepanjang jalan sangat menusuk hidung. Siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Masih dalam perjalanan ini, tertangkap warga yang sedang menangis di pinggir jalan. Sebab, dalam pemulangan ini, mereka tidak diantar sampai ke rumahnya. Padahal, jarak rumahnya masih agak jauh dari lokasi mereka diturunkan. Ada bawaan barang yang cukup banyak. Ditambah anak dan ibunya yang sakit.

“Kalo kami tau begini, tadi tidak usah antar kami pulang supaya kami cari oto sendiri. Kenapa antar kami tidak sampai rumah. Kami bawa barang banyak. Saya punya anak dan saya punya mama juga sakit”, begitu kata Yuliana Dahu, warga korban banjir asal Dusun Tualaran Desa Railor Tahak.

Yuliana mengaku bisa cari kendaraan sendiri kalau mau dipulangkan seperti itu. Sebab, mereka juga bisa. Biar diantar sampai rumah.

“Hanya karena bilang mau antar kami, jadi kami ikut saja. Sekarang malahan turunkan kami di jalan saja, sedangkan rumah kami masih jauh”, kata Yuliana sambil menangis histeris. Tetapi, siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Merespon situasi ini, wartawan TIMORTODAY.id dan ViktoryNews mencoba koordinasi dengan sopir truk yang mengantar Yuliana bersama mamanya yang sedang sakit dan anak-anaknya. Namun sopir bilang tidak bisa antar mereka sampai di rumah.

Seketika, ada dua kendaraan yang melintas jalur Desa Railor Tahak. Salah satu di antaranya ditumpangi Pater Videl bersama para suster. Kedua wartawan itu kemudian meminta bantuan Pater Videl bersama rombongannya berkenan mengantar Yuliana Dahu bersama keluarga. Tuhan hadir menolong.

Kedua wartawan itu lalu melanjutkan perjalanan ke Kantor Desa Railor Tahak. Mereka ingin memastikan apakah warga korban banjir diturunkan di sana atau tidak. Mereka mendapat pasokan makanan dan sembako atau tidak. Ternyata, semua yang dijanjikan Pemkab Malaka, tidak ada.

Kantor Desa Railor Tahak sepi. Terlihat Kepala Desa (Kades) bersama aparat desa duduk di depan pintu gerbang. Sebab, kondisi halaman kantor desa masih dipenuhi lumpur.

Kata Kades Railor, Wilfridus Seran, mereka sedang menunggu warga yang dipulangkan dari lokasi penampungan. Kepada mereka akan diberi sembako yang sudah diberikan Polres Malaka. Selanjutnya, warga pulang ke rumah masing-masing. Siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Dari Desa Railor Tahak, TIMORTODAY.id melanjutkan perjalanan ke Desa Lawalu. Terpantau lokasi di desa ini, warga sibuk membersihkan lumpur dalam rumah mereka. Sementara anak-anak mereka leluasa bermain di dalam air yang penuh lumpur di halaman rumah.

Salah satu warga Desa Lawalu yang ditemui TIMORTODAY.id mengatakan, mereka terpaksa pulang walaupun kondisi rumah mereka belum layak untuk dihuni kembali.

“Kami terpaksa pulang, walaupun sebentar malam kami tidak tau tidur dan masak di mana. Lumpur masih penuh. Kayu kering tidak ada. Minyak tanah juga tidak ada. Kalo kami mau beli minyak tanah harus ke Betun, sementara kondisi dalam rumah belum terurus. Walaupun beras ada tapi kami mau masak pake apa?”, kata Yasinta, penuh tanya. Siapa pun TIDAK BISA MENOLAK.

Penjabat Bupati Malaka Viktor Manek yang dihubungi Sabtu (10/04/2021) menjelaskan, pemulangan warga korban banjir ditempatkan di kantor desa masing-masing. Ini dimaksudkan pemerintah bisa menyediakan  kebutuhan pangan  dan lain-lain.

Penjabat Bupati Malaka Viktor Manek.

“Mereka dipulangkan ke rumah masing-masing.Tapi bagi warga yang rumahnya terhanyut dan kondisinya tidak memungkinkan untuk tinggal, mereka ditempatkan di kantor desa. Untuk kebutuhan pangan dan lain-lain disediakan oleh pemerintah. Ini memudahkan kepala desa untuk melakukan pendataan secara rill,” kata Penjabat Viktor.

Warga Malaka yang terdampak bencana banjir Sungai Benenai sesuai data Posko Bencana Banjir 2021 Kabupaten Malaka hingga 09 April 2021 sebanyak 5.634 jiwa (1.589 KK). Sedangkan korban meninggal dunia sebanyak 6 orang.

Data diatas tidak termasuk dengan warga yang tetap bertahan di rumah masing-masing atau mengungsi ke rumah keluarga.

Hingga berita ini ditayangkan, semua lokasi titik penampungan korban banjir sudah kosong. Antara lain SMPK Sabar Subur Betun, SDK 1 Betun, SDK 2 Betun, SD GMIT Betun, SDI Betun Kota, SMP Kristen Betun dan SDI Bakateu. (*)

  • Bagikan