Lecehkan Bahasa Sunda, Petrus Selestinus Desak PDIP Recall Arteria Dahlan

  • Bagikan

JAKARTA, TIMORTODAY.id-Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus mendesak Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan untuk me-recall anggota DPR RI dari partai tersebut, Arteria Dahlan.

Sebab, anggota Komisi III DPR RI ini dinilai melecehkan Bahasa Sunda saat sedang bersidang dengan Jaksa Agung sebagai mitra komisi.

Arteria Dahlan disebut-sebut membuat kegaduhan yang menyentuh wilayah SARA dan melecehkan Konstitusi UUD 1945, khususnya Pasal 32 ayat (2) UUD 1945.

Pasal ini memberi keleluasaan kepada setiap warga masyarakat untuk mengembangkan dan melestarikan bahasa daerahnya sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa yang harus dihormati.

“Arteria Dahlan mestinya tahu dan paham akan makna filosofis, sosiologis dan yuridis yang terkandung di dalam Pasal 32 ayat (2) UUD 1945, yang mengatur bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”, kata Petrus dalam rilisnya yang diterima redaksi, Selasa (18/01/2022) malam.

Menurut Petrus, tidak ada yang salah dari seorang Kepala Kejaksaan Tinggi ketika berbahasa Sunda dalam sebuah forum resmi maupun tidak resmi di hadapan siapapun rakyat Indonesia.

Sebab, penghormatan dan pemeliharaan terhadap bahasa daerah sebagai suatu kekayaan budaya nasional, wajib hukumnya untuk dihormati dan dipelihara, tidak hanya oleh masyarakat pemilik bahasa daerah yang bersangkutan. Tetapi juga oleh setiap warganegara termasuk negara-pun dituntut untuk menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya naaional.

Koordinator Perekat Nusantara ini mencatat, sudah berkali-kali Arteria Dahlan melakukan hal-hal yang bersifat kontraproduktif, mengabaikan tata krama dalam menghadapi siapapun dalam forum terbuka, menggunakan narasi yang melecehkan lawan bicara, melecehkan nalarnya sendiri sebagai seorang terpelajar, sehingga berdampak buruk dengan menimbulkan daya rusak yang tinggi bagi PDI Perjuangan, partai yang selalu menjunjung tinggi ajaran Trisakti Bung Karno, antara lain “berkepribadian dalam kebudayaan”.

Bagi Petrus, sulit diterima akal sehat jika seorang Arteria Dahlan menamakan diri kader PDI P,erjuangan tetapi serta merta secara sadar mengkhianati ajaran Trisakti Bung Karno, soal berkepribadian dalam kebudayaan, mengkhianati UUD 1945 dan mengkhianati doktrin-doktrin kaderisasi PDI Perjuangan yang seharusnya dikembangkan secara merata.

Advokat Peradi ini juga meminta Arteria Dahlan sadar bahwa bahasa Sunda selain sebagai bagian dari kebudayaan itu sendiri, tetapi juga bahasanya sebuah komunitas besar dengan jumlah pengguna bahasa Sunda di Jawa Barat sekira 49 juta rakyat, belum termasuk pengguna bahasa Sunda di Banten sekira 10 juta penduduk dan Jakarta kurang lebih 5 juta pengguna bahasa Sunda.

Ganggu Kohesivitas Sosial
Petrus lebih jauh bertanya, apa yang salah dengan bahasa dan masyarakat Sunda.

“Tentu tidak ada yang salah. Yang salah adalah Arteria Dahlan yang  sering memproduksi narasi yang mengganggu kohesivitas masyarakat yang pada gilirannya akan mengganggu keharmonisan warga yang beragam”, kata Petrus.

Petrus berharap PDI Perjuangan tidak boleh anggap remeh perilaku Arteria Dahlan. Sebab, perilaku itu bukan hanya sekali atau dua kali membuat gaduh di publik, tetapi sudah berkali-kali apalagi soal bahasa Sunda sudah masuk wilayah SARA.

“Ini jelas mengganggu kohesivitas sosial dan mencoreng wajah partai, apalagi terkait bahasa Sunda yang dilecehkan, tentu akan ada konsekuensi budaya, politik dan sosiologis”, katanya.

Petrus mengatakan, lebih baik merecall seorang Arteria Dahlan hari ini juga daripada menunggu Jaksa Agung menindak Kajati yang tidak punya salah.

“Dengan perilaku Arteria Dahlan, PDI Perjuangan akan kehilangan simpati masyarakat Sunda, Jawa Barat, Banten dan sebagian Jakarta serta pencinta budaya dan kearifan lokal di manapun di Indonesia”, demikian Petrus. (cq)

___________
Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksitimorline@gmail.com/cyriakuskiik68@gmail.com

Komentar
Facebook Comment
  • Bagikan