Pemilik Lahan Mengaku Bayar Pajak,  Investor yang Kuasai Tanah

  • Bagikan

BETUN, TIMORTODAY.id-Masyarakat pemilik lahan tambak garam industri Malaka di Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku membayar pajak setiap tahun. Tetapi, lahan miliknya justru dikuasai investor.

Dengan mengingat-ingat sosialisasi yang dilakukan PT Inti Daya Kencana (IDK) saat awal enam tahun lalu mulai bercokol di Rai Malaka, kontrak lahan yang dilakukan dengan para pemilik lahan dipastikan menggunakan sistem bagi hasil.

Kini, sistem kontrak itu dituntut para pemilik lahan. Sebab, mereka mengaku sangat dirugikan PT IDK selaku investor. Lahan sudah direlakan untuk digarap PT IDK bertahun-tahun tetapi mereka tidak mendapatkan hasil apa-apa dari kontrak lahan tersebut. Padahal, sebagian besar lahan merupakan lahan produktif berupa kebun dan tambak ikan tradisional.

Kini, sudah enam tahun lahan masyarakat dikelola PT IDK. Tetapi, tidak sepeser pun diterima pemilik lahan, kecuali uang siri pinang yang diberikan PT IDK saat pendataan lahan.

Di lain sisi, sebagian pemilik lahan tetap harus membayar pajak bumi bangunan  setiap tahunnya hingga saat ini.

Beberapa pemilik lahan ketika ditemui di Desa Weseben, Jumat (29/10/2021) sore mengaku sangat dirugikan. Yohanes Manek, Samuel Nahak, Rosina Luruk, Andreas Nanak dan Andreas Seran mengaku sangat dirugikan dengan diambilalihnya lahan warga dijadikan tambak garam industri di wilayah Wewiku tersebut.

“Tanah (lahan, red) sudah bertahun-tahun diolah IDK dan tidak ada hasil untuk kami. Sementara kami harus tetap bayar pajak. Orang susah macam kami ini dapat uang dari mana untuk bayar pajak. Kalau tanah kami olah untuk kebun bisa ada hasil. Ini orang yang makan, kami yang bayar pajak. Ini sama dengan kami bayar pajak, perusahaan yang kuasai lahan”, kata Rosina Luruk.

PT IDK selaku investor semakin memperluas lahan garapannya, sementara kesepakatan bagi hasil bagi warga pemilik lahan tidak jelas. (Foto: Cyriakus Kiik/Timortoday.id).

Hal senada dikatakan Andreas Nahak, warga Weseben lainnya. Sebelum tanah diambilalih IDK untuk tambak garam, dirinya mencari nafkah dari memanfaatkan pelepah, daun dan batang gewang. “Sekarang mau bagaimana lagi. Semua hilang. Kami tidak bisa cari ikan dan udang lagi sekarang. Kami tersisih di tanah sendiri”, kata Andreas.

Salah satu pemilik lahan lain, Samuel Nahak, melalui ahli warisnya mengaku kesal karena janji IDK untuk mempekerjakan masyarakat sekitar. Nyatanya, dirinya bersama beberapa warga diberhentikan dari pekerjaan dan digantikan dengan orang lain yang bukan pemilik lahan.

“Kami kasi lahan karena bilang mau kasi kami kerja. Tapi kerja tidak lama diganti tanpa alasan yang jelas”, kata Anderias Seran.

Menilai nasib lahannya terkatung-katung, Yohanes Manek dan beberapa warga lain yang ditemui terpisah menginginkan PT IDK berhenti beroperasi di lahan tersebut. Langkah ini dilakukan sambil menunggu ada kepastian klausur kesepakatan kontrak lahan atau bagi hasil.

“Lahan saya digarap tapi nama saya tidak ada dalam daftar pemilik lahan yang dipegang IDK. Kenapa IDK berani kerja lahan saya? Secara pribadi saya minta supaya ada kejelasan dulu baru kerja. Harus ada akta notaris tentang kontrak lahan baru kerja”, tandas Yohanes Manek.

Warga Desa Weoe, Angga Seran, SH, ditemui terpisah mengatakan hal senada. Menurut dia, pemilik lahan sudah habis kesabaran menunggu janji PT IDK. Pasalnya, janji produksi dalam waktu dekat oleh IDK hanya janji tinggal janji. Dampaknya, pemilik lahan merugi karena lahannya dikelola IDK selama hampir enam tahun tanpa hasil.

“Dulu pemilik lahan setuju bagi hasil tapi sekarang kami tidak percaya lagi karena dulu pembesar IDK janji di depan Pak Gubernur NTT bahwa sudah mau produksi beberapa bulan lagi. Itu Tahun 2019. Sekarang sudah 2021 tidak ada produksi. Malahan, lahan digusur makin luas lagi”, ujar Angga.

Kisruh penggarapan lahan antara PT IDK dan masyarakat pemilik lahan seputar tambak garam industri di Kabupaten Malaka mencuat kembali sejak September lalu. Para Fukun Tolus Bauna sebagai pemilik lahan ulayat dan pemilik lahan perorangan menyegel lahan secara adat. Pekerjaan pun dihentikan untuk beberapa waktu. Namun, saat ini, pekerjaan telah dilaksanakan kembali. Walau demikian, para pemilik lahan yang ditemui di Desa Weseben mengaku telah berusaha menghentikan pekerjaan di lahan milik mereka.

Hingga berita ini ditayangkan, otoritas PT IDK sebagai investor tambak garam industri di Kabupaten Malaka belum berhasil dikonfirmasi. (cq)

  • Bagikan