Perubahan dari Pelajar Pintar menjadi Pelajar Malas Akibat Pandemi Covid-19

Sebarkan:

Oleh: Rika Nuraisyah, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

MUNCULNYA pandemi virus corona (Covid-19) telah memengaruhi sektor-sektor penting kehidupan, seperti sektor ekonomi, transportasi, bahkan pendidikan. Jadi bagaimana? Bahkan dalam hal ini, pendidikan harus tetap berjalan.

Bacaan Lainnya

Oleh karena itu, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 yang mengatur Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19) Melaksanakan Pendidikan.

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam pengumuman tersebut adalah tentang pembelajaran online, dan fokusnya adalah meningkatkan pemahaman siswa tentang virus corona dan wabah Covid-19. Jadi apakah model pembelajaran online membuat pelajar santai karena hanya berdiam diri di tempat?

Nah, ternyata harapan belajar online itu menarik karena bisa santai di rumah atau di kost, karena kenyataan yang terjadi seolah menghilang. Kenyataannya banyak mahasiswa dan pelajar yang mengeluh.
Karena pembelajaran jarak jauh, tentunya pembelajaran dilakukan secara online.

Pembelajaran online membutuhkan pengguna laptop, gadget, IOS dan bentuk media lainnya. Sekarang pembelajaran biasanya dilakukan melalui video, chat atau melalui form. Mau tidak mau siswa, mahasiswa, guru, dosen dan oang-orang yang terlibat dalam pembelajaran harus menatap layar lebih lama dari biasanya. Namun hal ini akan membuat mata lelah dan membuat orang merasa bosan.

Akibat Covid-19, pembelajaran online yang dilakukan “di rumah aja” membuat siswa malas. Pembelajaran online bisa dilakukan di mana saja, termasuk di tempat tidur yang bisa sambil rebahan. Karena ruangan yang kecil, gerakan juga berkurang. Hal ini membuat sangat sulit untuk menerima materi yang seharusnya didapatkan.

Selain itu, berpengaruh terhadap mayarakat, khususnya siswa sekolah dasar saat ini, dapat dilihat bahwa mereka lebih tergantung atau terobsesi dengan gadget yang tidak dapat digunakan dengan benar sesuai dengan tujuan yang seharusnya mereka lakukan, yang pasti akan sangat memengaruhi kesehatan mereka seperti mata dan tubuh, karena mereka masih dalam masa pertumbuhan. Karena saat belajar tubuh terlalu santai maka akan menjadi kurang gerak dan radiasinya tinggi. Badan tidak seaktif dulu, siswa dan siswi harus merasakan berjalan dari satu sudut kelas ke sudut lainnya, menaiki tangga, bermain dan aktivitas lainnya. Akibatnya otot rawan pegal-pegal dan mata mudah lelah, yang juga akan berpengaruh pada psikologi atau mental pelajar masa kini, tugas semakin banyak dan semakin sulit. Bukan untuk membuat pelajar pintar tetapi untuk membuat pelajar frustasi, tidak mengerjakan tugas dan akhirnya melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka lakukan. Masalahnya adalah karena sebagian besar tugas dapat mengakses internet, tetapi referensinya di buku perpustakaan sekolah.

Selain masalah-masalah yang terjadi akibat perubahan pola belajar dan cara berpikir generasi muda saat ini tentunya untuk menunjang pembelajaran online butuh sejumlah fasilitas. Fasilitas tersebut berupa gadget atau laptop, kuota, jaringan internet, juga aliran listrik. Apabila ada hambatan mengenai hal tadi, tentunya pembelajaran online juga mengganggu atau tidak bisa mengikuti pembelajaran secara efektif.

Sebagai contoh, pelajar yang tinggal di daerah pelosok karena saya juga termasuk dari mahasiswa yang tinggal di daerah pelosok itu, di mana jaringan internet di sana kurang stabil bahkan sangat kesulitan untuk membuka internet. Karena kesulitan jaringan, saya juga mencari di berbagai tempat seperti di pinggiran sawah hingga pergi ke rumah saudara yang jaringan internetnya cukup baik. Hal ini akan membuat pelajar tersebut kurang bisa mengikuti pembelajaran bahkan malas untuk belajar online, seperti melalui aplikasi Zoom, Google Meet, dan sebagainya.

Dengan memperhatikan adanya hal-hal yang terjadi di atas, menurut saya, tetap lebih baik jika pembelajaran dilakukan secara tatap muka seperti sebelumnya saat belum terjadi pandemi. Karena, selain lebih efektif dan lebih baik hal tersebut tidak akan mengganggu perkembangan generasi muda ke depannya jika gadget disalahgunakan.

Yang pasti semua itu dapat dilakukan setelah pandemi Covid-19 hilang. Maka pastinya kita berharap agar pandemi Covid-19 ini cepat hilang dan segala aktivitas di berbagai sektor dapat berlangsung normal kembali. (*)

Sebarkan:

Pos terkait