Sr. M. Gratiana, PRR: Orang Awam Jangan Jadi Orang Pinggiran

  • Bagikan

LARANTUKA, TIMORTODAY.id-Di jaman sekarang, orang  awam selalu memposisikan diri seperti  orang pinggiran atau umat kelas dua. Salah satu contoh nyata adalah selalu meminta pastor memimpin doa dalam setiap event yang dihadiri  kaum klerus. Padahal, gereja awal itu dimulai dari orang-orang awam.

“Orang  awam selalu tidak percaya diri kalau di dalam dirinya ada kekuatan Roh Kudus yang bekerja. Seolah-olah semua hal itu bergantung pada pastor,” tukas Suster Pemimpin Umum Kongregasi PRR Sr. M. Gratiana, PRR ini ketika menyampaikan materi di hadapan 134 peserta  Munas II SMGM yang berlangaung di Aula Penginapan St. Maria Onga Larantuka, Sabtu (06/11/2021).

Karena itu, Sr. Gratiana mengajak kaum awam agar selalu percaya diri sebagai utusan Tuhan untuk mewartakan kasih kepada siapa saja.

Ia mengatakan, Mgr. Gabriel Manek semasa hidupnya selalu memberdayakan kaum awam untuk mewartakan injil ke pulau-pulau semasa menjadi Uskup Larantuka.

Sementara itu, Bernadus Tukan yang tampil membawakan materi “Panggilan Kerasulan Awam Inspirasi dari Kepulauan Solor” mengatakan, kaum awam sangat berperan dalam penyebaran dan penyuburan Agama Katolik di wilayah Flores Timur terutama di Pulau Solor pada masa lalu dan telah menghasilkan buah antara lain berdirinya Kongregasi Puteri Reinha Rosari (PRR).

Bahkan, menurut Tukan, buah itupun telah berbuah pula dengan terbentuknya komunitas Sahabat Mgr. Gabriel Manek,SVD. Hal ini mengingatkan kita bahwa generasi kemudian tidak sebatas menikmati buah, tapi serentak dipanggil untuk mengakarkan iman serani itu untuk terus menghasilkan buah.

Karena itu, Tukan kemudian mengajak peserta untuk merefleksikan peran awam di masa lalu dalam terang ajaran gereja, dan dalam terang itu hendaklah melakukan transformasi peran awam sesuai tuntutan zaman.

“Kembali ke masa lalu dan menghadirkannya secara utuh dewasa ini adalah sebuah kebekuan. Sebaliknya, melangkah ke masa depan tanpa berpijak ke masa lalu dapat berakibat kehilangan arah,” tegas Tukan.

Ia menambahkan, sejarah berlanjut dalam kerja budaya yang disebut transformasi, mendaur ulang nilai-nilai masa silam atau mengemas ulang warisan leluhur dalam bentuknya yang sesuai dengan tuntutan zaman. (cq/mans)

  • Bagikan